Showing posts with label ANGKATAN LAUT. Show all posts
Showing posts with label ANGKATAN LAUT. Show all posts

Tuesday, July 18, 2017

Kapal Perang Republik Indonesia FREGAT Kelas AHMAD YANI Tahun 1980 dari AL Belanda

Kapal Perang Republik Indonesia FREGAT Kelas AHMAD YANI Tahun 1980 dari AL Belanda
Kapal Perang Republik Indonesia FREGAT Kelas AHMAD YANI Tahun 1980 dari AL Belanda


Kapal Perang yang dimiliki TNI-AL termasuk dalam kapal Fregat. Apa itu FREGAT???
admin kali ini akan menjelaskannya, Jadi, Fregat kelas Ahmad Yani merupakan kelas fregat TNI Angkatan Laut yang dibeli pada tahun 1980-an dari Angkatan Laut Belanda. Di Belanda, kelas ini dikenal dengan nama Fregat kelas Van Speijk yang dibangun pada tahun 1967. Kelas ini merupakan versi lain dari fregat Inggris yaitu Fregat kelas Leander dengan menggunakan radar dari Belanda. Belanda membangun enam kapal yang kemudian keseluruhannya dijual kepada Indonesia.
Yuk langsung aja di simak...

1. KRI(Kapal Perang Republik Indonesia) Karel Satsuit Tubun (356)


KRI Karel Satsuit Tubun adalah Fregat kelas Ahmad Yani milik TNI Angkatan Laut. Dinamai menurut Karel Satsuit Tubun, salah seorang pahlawan nasional.

KRI Karel Satsuit Tubun merupakan kapal fregat eks-Angkatan Laut Belanda bernama HNLMS Isaac Sweers (F814) yang kemudian dibeli oleh Indonesia. Kapal ini bersaudara dekat dengan Fregat Inggris Kelas HMS Leander dengan sedikit modifikasi dari disain RN Leander asli. Dibangun tahun 1967 oleh Nederlandse Dok en Scheepsbouw Mij, Amsterdam, Belanda dan mendapat peningkatan kemampuan sebelum berpindah tangan ke TNI Angkatan Laut pada tahun 1977-1980. Termasuk di antaranya adalah pemasangan sistem pertahanan rudal anti pesawat (SAM, Sea to Air Missile) Mistral menggantikan Sea Cat.


Senjata:
•2x4 - Rudal Darat ke Udara mistral dengan sistem peluncur simbad
•1 Pucuk Meriam - OTO-Melara Compact Kaliber 76 mm ; kecepatan tembakan 85 peluru per menit
•2x2 - Rudal anti Kapal perang C-802 - berpemandu inertial/GPS dan Active radar homming
•4x - Torpedo Honeywell Mk 46 Kaliber 533 mm berkemampuan SUT (Surface & Underwater Target)
•2x - Senapan Mesin Berat browning kaliber 12,7 mm

2. KRI Slamet Riyadi (352)


KRI Slamet Riyadi (352) merupakan kapal kedua dari kapal perang Perusak Kawal Berpeluru Kendali kelas Ahmad Yani milik TNI Angkatan Laut. Dinamai menurut Slamet Riyadi, salah seorang pahlawan nasional.

KRI Slamet Riyadi merupakan kapal fregat bekas pakai AL Belanda (Hr.Ms. Van Speijk (F802)) yang kemudian dibeli oleh Indonesia. Kapal ini termasuk dalam Fregat kelas Leander dengan sedikit modifikasi dari disain RN Leander asli. Dibangun tahun 1963 oleh Koninklijke Maatschappij de Schelde, Vlissingen, Belanda dan mulai bertugas pada AL Belanda sejak 1967.

Pada tahun 1987, dibebastugaskan dari AL Belanda dan mendapat peningkatan kemampuan sebelum berpindah tangan ke TNI-AL pada tahun 1987. Termasuk di antaranya adalah pemasangan sistem pertahanan rudal antipesawat (sea-to-air missile/SAM) Mistral menggantikan Sea Cat. Di Indonesia, kapal ini bertugas sebagai armada patroli dengan kemampuan anti-kapal permukaan, anti-kapal selam dan anti-pesawat udara.

Persenjataan:
•8 Peluru Kendali Permukaan-ke-permukaan China Haiying Electromechanical Technology Academy C-802 dengan jangkauan maksimum 120 km (70 mil laut), berkecepatan 0,9 mach, berpemandu active radar homing dengan hulu ledak seberat 165 kg.
4 Peluru kendali permukaan-ke-udara Mistral dalam peluncur Simbad laras ganda sebagai •pertahanan anti serangan udara. Jangkauan efektif 4 km (2,2 mil laut), berpemandu infra merah dengan hulu ledak 3 kg. Berkemampuan anti pesawat udara, helikopter dan rudal.
•1 Meriam OTO-Melara 76/62 compact berkaliber 76 mm (3 inchi) dengan kecepatan tembakan 85 rpm, jangkauan 16 km untuk target permukaan dan 12 km untuk target udara.
•2 Senapan mesin 12,7 mm
•12 Torpedo Honeywell Mk. 46, berpeluncur tabung Mk. 32 (324 mm, 3 tabung) dengan jangkauan 11 km kecepatan 40 knot dan hulu ledak 44 kg. Berkemampuan anti kapal selam dan kapal permukaan.

3. KRI Yos Sudarso (353)


KRI Yos Sudarso (353) merupakan kapal ketiga dari kapal perang kelas Perusak Kawal Berpeluru Kendali Kelas Ahmad Yani milik TNI AL. Dinamai menurut Yos Sudarso, salah seorang pahlawan nasional yang gugur di atas KRI Macan Tutul dalam pertempuran laut Aru pada masa kampanye Trikora.

KRI Yos Sudarso merupakan kapal fregat bekas pakai AL Belanda (F803) yang kemudian dibeli oleh Indonesia. Kapal ini bersaudara dekat dengan Fregat Inggris Kelas HMS Leander dengan sedikit modifikasi dari disain RN Leander asli. Dibangun tahun 1967 oleh Nederlandse Dok en Scheepsbouw Mij, Amsterdam, Belanda dan mendapat peningkatan kemampuan sebelum berpindah tangan ke TNI Angkatan Laut pada tahun 1977-1980. Termasuk diantaranya adalah pemasangan sistem pertahanan rudal anti pesawat (SAM, Sea to Air Missile) ) Mistral menggantikan Sea Cat. Penggantian juga dilakukan pada senjata rudal yang semula menggunakan 8x Harpoon Mc Douglas buatan USA diganti dengan C-802 buatan Tiongkok.

Bertugas sebagai armada patroli dengan kemampuan anti kapal permukaan, anti kapal selam dan anti pesawat udara.

Persenjataan:
•4 Peluru Kendali Permukaan-ke-permukaan China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC) C-802 dengan jangkauan maksimum 120 Km , berkecepatan jelajah 0,8-0,9 mach, berpemandu inertial/GPS dan terminal active radar dengan hulu ledak seberat 150 Kg.
•4 Peluru kendali permukaan-ke-udara Mistral dalam peluncur Simbad laras ganda sebagai pertahanan anti serangan udara. Jangkauan efektif 4 Km (2,2 mil laut), berpemandu infra merah dengan hulu ledak 3 Kg. Berkemampuan anti pesawat udara, helikopter dan rudal.
•1 Meriam OTO-Melara 76/62 compact berkaliber 76mm (3 inchi) dengan kecepatan tembakan 85 rpm, jangkauan 16 Km untuk target permukaan dan 12 Km untuk target udara.
•2 Senapan mesin 12.7mm
•12 Torpedo Honeywell Mk. 46, berpeluncur tabung Mk. 32 (324mm, 3 tabung) dengan jangkauan 11 Km kecepatan 40 knot dan hulu ledak 44 kg. Berkemampuan anti kapal selam dan kapal permukaan.

Friday, February 10, 2017

Kementerian PUPR Membangun Dermaga TNI AL di Ambon.

Tawiri, Teluk Ambon, Maluku (image : GoogleMaps)

Suara.com - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono meninjau Pembangunan Dermaga milik TNI AL yang dibangun di Desa Tawiri, Kecamatan Teluk Ambon, Maluku, Rabu(8/2/2017). Pembangunan Dermaga di Desa Tawiri merupakan pengganti Dermaga TNI AL yang sebelumnya ada di Desa Halong, namun setelah adanya Jembatan Merah Putih, kapal-kapal tidak dapat melintas.

Pembangunan dermaga baru yang berjarak kurang lebih 20 Km dari dermaga lama, akan dilakukan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XVI, Ditjen Bina Marga, Kementerian PUPR. "Mudah - mudahan tahun 2017 ini sudah dapat dibangun Dermaga dan komplek Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) disana agar TNI AL dapat melaksanakan tugasnya," tambahnya.

Pembangunan Dermaga Tawiri beserta sarana dan prasarana penunjang lainnya dimaksudkan sebagai tempat kapal-kapal perang tonase besar milik TNI AL bersandar untuk mengisi perbekalan baik bahan bakar, air tawar, bahan makanan, obat-obatan maupun amunisi, perawatan kesehatan bagi ABK KRI yang sakit, perbaikan dan perawatan kapal bila terjadi kerusakan peralatan kapal, serta refresing bagi ABK seperti olahraga, pesiar agar siap berlayar.

Dermaga Tawiri dibangun di atas lahan seluas 12 hektar dilengkapi sarana dan prasarana antara lain : gedung kantor dan staf, lapangan apel, kantor Denma, gudang senjata, gedung serba guna, pos penjagaan, balai pengobatan, kantor satkom, kantor Disang, hanggar, rumah ganset dan panel, gudang Disbek, kantor Disahal, kantor Pomal, dan marsheling area.

Biiaya konstruksi pembangunan dermaga baru tersebut diperkirakan sebesar Rp 130 milyar dan saat ini masih dalam proses lelang, sedangkan pengadaan lahan sebesar Rp 70 miliar dan telah terbayarkan dari dana APBN 2016.

Turut mendampingi Inspektur Jenderal Rildo Ananda Anwar, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR Danis H Sumadilaga, Kepala Biro Komunikasi Publik Endra S. Atmawidjaja, Kepala BPJN XVI Maluku dan Maluku Utara H. Shafwan HR. Kepala BWS Maluku Hariyono Utomo dan Kepala Dinas PU Provinsi Maluku Ismail Usemahu.

by : Suara